Panther Mania

Forum komunikasi bagi sesama pengguna Isuzu Panther, sekaligus sebagai tempat untuk bertukar informasi sekitar produk Panther.

Monday, June 27, 2005

Medan-Jakarta dengan Biodiesel

Artikel lama sih.

http://cdc.eng.ui.ac.id/article/articleview/2771/1/2/

Medan-Jakarta dengan Biodiesel

BOGOR -- Sejak Ahad (29/11) dua pekan lalu, iring-iringan kendaraan terdiri
atas dua mobil van Isuzu Panther dan dua truk Mitsubishi mulai bergerak dari
Jalan Bridjen Katamso 51, Medan, Sumatera Utara. Tujuan mereka adalah
Jakarta. Namun, ini bukan konvoi arus balik pemudik Lebaran, melainkan misi
uji coba pemakaian bahan bakar biodiesel yang terbuat dari campuran minyak
kelapa sawit dan solar murni. Biodiesel itu dibawa dalam drum-drum yang
diangkut sendiri oleh truk Mitsubishi yang menjalani pengujian.

Penyelenggara uji coba ini adalah Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI)
yang berkantor di Jalan Salak, Bogor, Jawa Barat. Menurut klaim mereka, ini
uji boca yang pertama di Indonesia. Uji coba ini untuk menunjukkan bahwa
biodiesel bisa menggantikan solar.

Direktur Eksekutif LRPI Dr. Didiek Hadjar Goenadi mengatakan bahwa uji coba
pengganti solar ini akan menempuh jarak Medan-Jakarta, sekitar 1.000
kilometer. Berawal dari kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit dan dilalui
Pekanbaru, Riau (1/12), Jambi (3/12), Palembang (4/12), Lampung (7/12), dan
berakhir di Departemen Pertanian, di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, pada
10 Desember mendatang.

Menurut Didiek, bahan bakar biodiesel sebenarnya sudah dikembangkan sejak
1992, tetapi baru diuji coba sekitar 2001, yakni sebagai bahan bakar pada bus
milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menempuh
perjalanan Jakarta-Bogor.

Ternyata biodiesel dari kelapa sawit dicampur dengan solar murni dapat
membentuk senyawa yang baik. "Kami kemudian melakukan pencampuran dengan
perbandingan 10 persen biodiesel dan 90 persen solar, hasilnya sangat
menakjubkan, ini sudah dicoba pada bus milik BPPT hingga sekarang," kata
Didiek.

Penelitian pun berkembang, ternyata biodiesel bisa menggantikan solar secara
keseluruhan. Penelitian yang dilakukan hasil kerja sama antara Direktorat
Jenderal Bina Produksi Perkebunan dan Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Pertanian pada Departemen Pertanian, bersama Pusat Penelitian
Kepala Sawit LRPI dan Institut Teknologi Bandung, akhirnya memberanikan diri
menguji coba kemampuan biodiesel ini sebagai pengganti solar dalam jarak
tempuh ribuan kilometer.

Dalam uji coba, dua buah mobil menggunakan bahan bakar solar campuran
biodiesel yang disebut B10 (10 bagian biodiesel dan 90 bagian solar) dengan
asumsi akhir hitungan Rp 1.989 per liter, sangat murah untuk bahan bakar
ramah lingkungan.

Sebenarnya, LRPI juga pernah melakukan uji coba menggunakan biodiesel 100
persen pada mobil bermesin diesel, hasilnya memuaskan. Tapi jika dihitung
lagi, ternyata untuk menjadikan satu liter minyak biodiesel dari kelapa sawit
biaya produksinya mencapai Rp 6.000, berarti jauh lebih mahal dibandingkan
harga solar. "Di sinilah diperlukan bantuan pemerintah jika memang ingin
mengembangkan biodiesel dengan mensubsidi harga pasokan minyak sawit," ujar
Didiek.

Sebenarnya harga biodiesel sangat tergantung pada harga minyak kelapa sawit
(crude palm oil/CPO) yang selalu berfluktuasi. Untuk skala besar, harga CPO
mencapai US$ 400 per ton. Jika dihitung kebutuhan solar sekitar 23 juta ton
per tahun (termasuk 7,2 juta ton solar impor), penggunaan bahan B10 akan
memerlukan sekitar 2,3 juta ton biodiesel atau sekitar 2,4 juta ton CPO.

"Namun, untuk menciptakan biodiesel secara massal diperlukan campur tangan
pemerintah yang bisa mensubsidi CPO untuk bahan baku biodiesel. Kalau ini
terwujud, subsidi untuk solar bisa dikurangi," Didiek berharap.

Jika dapat diproduksi massal, harga biodiesel B10 akan mencapai sekitar Ro
1.989 per liter. Cukup kompetitif bila dibandingkan dengan harga solar dan
keuntungan yang didapat, yakni bahan bakar yang ramah lingkungan.

Menurut Dr. Ir. Darnoko, pencetus ide biodiesel minyak kelapa sawit di Pusat
Penelitian Kelapa Sawit Medan, pihaknya dapat memproduksi B10 ini 25 ton per
bulannya. Biaya produksi untuk menghasilkan satu ton biodiesel minyak kelapa
sawit ini sekitar US$ 282,29.

Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan tidak
beracun, biodiesel bisa menggunakan minyak nabati atau minyak goreng bekas.
Secara kimia biodiesel termasuk dalam golongan monoalkil eseter atau metil
ester dengan panjang rantai karbon 12-20. Inilah yang membedakannya dengan
petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya adalah karbon.

Didiek mengatakan, ada 10 keuntungan penggunaan biodiesel, yakni tidak perlu
memodifikasi mesin kendaraan, emisinya lebih rendah, tidak menambah efek
rumah kaca, energi yang dihasilkan sama, ada efek pelumasan, cetane number
lebih tinggi, penyimpanan lebih mudah, renewable (bisa mengurangi impor
solar), biodegradable (sama dengan glukosa pencampuran biodiesel dengan
petroleum diesel dapat meningkatkan biodegradable petroleum diesel sampai 500
persen) dan tak beracun.

Didiek memiliki target untuk dicapai. Mereka mengincar pasar industri. Namun,
untuk sementara sebelum ada perhatian dari pemerintah, pihaknya hanya
menggunakan biodiesel untuk kendaraan operasional. deffan purnama

sumber: tempo.co.id

0 Comments:

Post a Comment

<< Home